Selasa, 17 Maret 2009

Lentera itu bernama UBLIK

Dahulu ketika saya masih kecil, ketika lampu padam atau g padampun sering menggunakan sebuah lentera kecil untuk menerangi rumah. lentera itu UBLIK namanya, si ublik memiliki perawakan yang langsing bagian atasnya,dengan model mbangkok bagian bawahnya. penampilan ublik sangat sederhana, ublik hidup dari simpanan minyak tanah dalam kantong perutnya, dari perut hingga ujung pusatnya (dada), si ublik di lanjari oleh secarik sumbu dari kain ataupun benang sebagai jalur hidupnya ublik, dan kemudian cahayapun di tiupkan ke dalam ublik untuk menyempurnakan nama si ublik,dengan cahaya itu maka hiduplah si ublik, kini lengkaplah sudah penampilan si ublik, dia memiliki jasad dari kaca dan beberapa pengontrol diri untuk mengatur besar kecilnya cahaya yang muncul dari dalam dada si ublik. serta memiliki jiwa yang berupa api di dadanya


ublik hanya menjalankan tugasnya malam itu, si ublik menghabiskan sisa malamnya dengan si sepi, si ublik berusaha mengusir petang dengan cahayanya, namun ublik sadar dia tak bisa melawan alam, ublik tak mungkin melawan petang, namun setidaknya dia telah menerangi apa yang didekatnya. si ublik sadar suatu saat dia akan padam, namun yang dia hawatirkan adalah malam berikutnya, siapakah yang akan mengusir petang di malam berikutnya?????.....ublik tak tersenyum dan tak pula tersinis, si ublik hanya bergoyang melambai sesekali karena tiupan angin mamiri......
pada suatu saat ublik pernah mendampingi beberapa jama'ah yang hendak melaksanakan ibadah.kala itu lampu padam hingga akhirnya ublik di panggil untuk menerangi tempat itu, di mushola itu setelah adzan berkumandang, para jama'ah mengalunkan pujian menunggu ikhomat, dan si ublikpun mendengar pujian itu dengan mencernanya......
robbana ya robbana
robbana dzolamna angfusana
wailamtagfirlana, watarhamna
lana kunana minal qosirin
"duh gusti kulo nyuwun ngapuro
sekatahe dosa kulo,
lan dosane tiyang sepuh kaleh kulo
lan dosane tiyang islam sak alam donya"
mendengar pujian itu luluhlah cahaya ublik.......
meskipun ublik tak bisa berkata, namun ublik memiliki hati...
ublik merasa dirinya telah sombong......
ublik diingatkan oleh para jama'ah bahwa dia hanyalah si ublik bukan matahari, dan hingga cahaya direnggut dari si ublik, ublik akan mengenang masa itu

0 komentar: