
Kondang merak, tentu nama itu tak asing lagi bagi kalian yang pernah mengintip tempat wisata di ujung selatan kabupaten malang ini. Pantai yang dulu pernah ramai oleh jamahan mata kamera para wisatawan sekitar beberapa tahun yang silam kini kembali menjadi si jelita yang terpagar oleh alam, kelembutan pasirnya, kesejukan udaranya yang dinaungi birunya mata cakrawala ini seakan telah dilupakan. ke elokan bibir pantai beserta kelembutan pasir yang tersapu ombak seakan rayuan ” dewi tirta” menarik langkah kecil kami, sungguh si jelita yang eksotic.

balaikambang
Pantai ini terletak disebelah pantai balaikambang, jika balai kambang telah ramai akan jejak para pancari keindahan pulau Jawa dwipa ini karena pura yang menjadi pusat jepretan mata kamera mereka, selain itu mungkin karena bibir pantai nan luas. Dengan tiket masuk Rp 7.500,- per orang dan parkir Rp 3000,- untuk motor anda dapat bebas menjamahi pantai balaikambang ini beserta hiruk pikuk pedagangnya¸ namun hal yang demikian mungkin tak akan anda jumpai di pantai kondang merak, kondang merak yang begitu jelita berselimut liarnya alam.

Di bibir si jelita kondang merak
Saat anda sampai di penunjuk arah antara pantai balaikambang dan kondang merak, saya yakin 95,9999% kebanyakan orang akan tertarik kearah balaikambang sebab jalan kea rah balaikambang lebih mulus jauh berbeda sekali dengan jalan menuju si jelita kondang merak, jalan setapak serta rerumputan liar seakan menjadi pelindung kondang merak dari jamahan para wisatawan. Jalan yang terjal serta becek jika terkena hujan seakan jeruji besi si jelita agar siapapun tak masuk kewilayahnya. Di tengah tengah perjalanan ke kondang merak dibalik terjalnya batu dan lebatnya belantara yang mengapitnya si kera hutan dengan ekspresinya meloncat kesana kemari seakan memamerkan betapa masih belantaranya wilayah itu namun sayang kami tidak sempat mengabadikannya karena si kera langsung pergi ke dalam singgasananya.

KONDANG MERAK
Begitu kami memasuki pintu masuk tempat penarikan karcis, sungguh ironis sekali seakan gardu yang terkena gempa, rumput liar merambat diseluruh tembok dan lumut hutan menghiasinya menggambarkan pos penjagaan itu memang telah lama tak terawat, sesampainya dibibir pantai tanpa basa basi kami langsung bercengkrama dengan belaian ombak dan kelembutan pasir kondang merak, sejenak kami menikmati rayuan sepoi angin yang menyapa, kamipun melangkah menyusuri bibir pantai nan mungil dan benar-benar cantik, sapuan ombak kecil pantai ini seakan menggiring kami untuk menjelajahi tempat itu dan tak ketinggalan teman saya langsung mengabadikan moment itu dengan mata kameranya. Setelah beberapa jam kami berkejar kejaran bersama ombak, kami mampir sejenak pada si empunya alias penduduk sekitar, dengan ramah mereka menyuguhkan beberapa butir kelapa muda yang langsung dipetik dari pohonnya karena kebetulan banyak kelapa muda tengah berbuah dan langsung membasahi tenggorokan kami, dari keterangan beliau beliau ini kami mendengar asal mula “ kondang merak” .
balai kambang
kondang itu berarti tersohor atau terkenal dan merak berarti jenis hewan yang mayoritas dulu pernah ada disekitar situ yaitu burung merak….waawww, tepatnya disebelah pedukuhan ada aliran seperti sungai yang mengalir menuju samudra ini, dari keterangan itu memang begitu dahsyatnya ke elokan pulau DJAWA DWIPA ini dl, bahkan sampai kinipun keanggunan tempat itu masih saja menawan setiap mata yang memandangnya, namun sayang sungguh beribu sayang, alam seindah itu tidak diperhatikan oleh pemerintah, andai saja pemerintah mau sedikit saja membuka MATAnya mungkin arek malang akan bangga karena ada sempalan surga yang tak kalah dengan pulau dewata telah jatuh di pantai kondang merak

dalam lambaian

pasir membentang

terus berlari

melawan ombak

dahaga

jernih

menanti

asal merak
naga di tepi

pasir mendesir